Akhirnya punya rumah sendiri.
Lalu rumah yang lama gimana? Ya biarkan saja. Biarkan menjadi kenangan.
Mari berkunjung ke rumah yang baru: http://erricgunawan.com/blog
Di suatu hutan yang rindang, hidup berbagai binatang buas dan jinak. Ada kelinci, burung, kucing, capung, kupu-kupu dan yang lainnya. Pada suatu hari, hutan dilanda badai yang sangat dahsyat. Angin bertiup sangat kencang, menerpa pohon dan daun-daun. Kraak! terdengar bunyi dahan-dahan berpatahan. Banyak hewan yang tidak dapat menyelamatkan dirinya. Badai baru berhenti ketika pagi menjelang. Matahari kembali bersinar hangatnya.
Tiba-tiba dari dalam tanah muncul seekor semut. Si semut terlindung dari badai karena ia bisa masuk ke sarangnya di dalam tanah. Ketika sedang berjalan, ia melihat seekor kepompong yang tergeletak di dahan daun yang patah.
Ada yang bilang, kalau makanan di Bandung (Sunda, Jawa Barat) itu kebanyakan manis.
Dan memang setelah merasakan lima hari berada di sini, rata-rata makanannya cenderung manis. Bahkan sambalnya pun lebih berasa manisnya daripada pedasnya. Yah, setidaknya ini menurut penilaian orang yang biasa hanya tahu ‘rasa’ suka dan tidak suka.
Pertama kali tiba di Jogja untuk kuliah, berasa banyak nemu jalan satu arah (Jl. Urip Sumoharjo/Jl. Solo, Jl. Mangkubumi, Jl. Malioboro, Jl. Bhayangkara).
Pertama kali ke Solo untuk kerja, banyak nemu jalan satu arah juga (Jl. Slamet Riyadi, Jl. Rajiman, Jl. Honggowongso).
Waktu di Jogja atau di Solo, ada yang gak mau kalah, bilang kalo di Semarang lebih banyak jalan satu arahnya (Jl. MT. Haryono/Jl. Mataram, Jl. Dr. Cipto).
Nah, waktu mau berangkat Bandung, selain pesan yang satu ini, temen juga bilang, hati-hati kalau di Bandung, karena banyak jalan satu arahnya. (Terbukti sewaktu tiba di sini subuh-subuh, lihat banyak jalan dengan plang ‘forbodden’-nya. Sayang nama jalan tidak terbaca karena masih gelap).
Jadi kesimpulannya, semua kota di Indonesia itu, banyak jalan satu arahnya, ya?
Beberapa hari ini makan siang bareng temen-temen kantor, jadi teringat lagi masa-masa itu. Masa-masa waktu makan bareng di ruang makan yang (relatif) kecil dan gelap, keluar makan di Warung Kecil, maupun ngantri makan di ruang belakang karena jumlah yang mau makan tidak berbanding lurus dengan tempat yang tersedia.